Adakalanya sebuah kisah persahabatan itu didominasi oleh percampuran berbagai rasa, belum lagi ketika individu memiliki egosentris yang tinggi, wajar saja karena memang kita semua manusia dianugerahi sebuah ego, namun perlu kita pahami betul, bahwa sebagai manusia pembelajar kita harus bisa menempatkan ego itu pada posisi yang tepat. Sehingga, tidak ada hal-hal yang membuat kita merasakan penyesalan yang teramat.
"Karena ceritamu milikmu" sebuah kutipan yang menggambarkan bahwa kita sebagai manusia harus memiliki prinsip hidup yang mampu membuat kita bisa berkembang, apapun yang kita lakukan kita berhak menentukan akan seperti apa nantinya menjalankan semua proses perjalanan hidup akan sangat melelahkan jika tidak ada seseorang yang mampu menguatkan kita, siapa lagi orang yang berharga setelah keluarga...iya dia adalah sahabat. Benar sahabat memanglah seseorang yang dengan ketulusannya mereka mampu membuat kita menyusuri jalanan terjal sekalipun.
Sebuah kekuatan yang luar biasa yang berhasil membuatku bertahan, menjalin sebuah hubungan persahabatan memang memerlukan proses yang cukup panjang, kita perlu memahami secara detail karakter dari rekan yang akan menjadi sahabat kita, perlu kita ketahui bahwa dibalik hebatnya kekuatan sebuah persahabatan akan ada saja sebuah percekcokan, perselisihan, perbedaan pendapat itu adalah hal yang wajar saja bila kita mengalami situasi tersebut. Akan terpikir oleh kita segala kebaikan serta ketulusan mereka, jika saja kita terus menggenggam ego maka apa jadinya ketika hidup kita tanpa kehadiran sosok sahabat.
Berangkat dari sebuah ketulusan sahabat, akan menjadi penting ketika kita satu sama lain telah sampai pada awareness dengan adanya karakter tersebut dalam diri kita maka akan menjadi komponen pelengkap dari puzzle yang belum disempurnakan, sahabat yang memiliki karakter tersebut maka tanpa kita bicarapun mereka tahu kondisi yang kita alami seperti apa, kontak batin itu akan tercipta dengan sendirinya seiring dengan tumbuhnya pemahaman kita terhadap perilaku sahabat kita. Saat Allah mempertemukan kita dengan seseorang maka konsekuensinya adalah ada perpishan setelahnya, ini merupakan part yang tidak aku inginkan kedatangannya, bagiku sebuah perpisahan masih terasa menyesakkan meski logika ini terus bergulat dengan hati bahwa semuanya telah menjadi bagian dari skenario, hal terampuh untuk mengobati hal itu adalah dengan cara merelakan, dari situ kita diuji seberapa mampukah kita dalam menerima dari segala kondisi hidup yang ada.
soo....pereratlah hubungan kita dengan sahabat jika kita masih saja mempertahankan ego kita, maka yakinlah orang-orang yang dekat dengan kita tidak akan mampu bertahan, tak ada salahnya ketika kita meninggalkan ego kita, itu akan lebih baik😉.